Breaking News

Tips Terapi Ketika Murid 'Melambai'



Akarwangi.com- "ustadzaaaaah...ini lho si A ngejar - ngejar aku" teriak anak si B, tak beberapa lama si A teriak seperti anak cewek "aaaaaaa...ustdzaaaaaah", lengkingan suara mereka membuyarkan konsentrasi pekerjaanku...#halah, memang keduanya cowok, mereka kejar - kejaran seperti layaknya murid yang lainnya saat jam istirahat. Aku keluar dari ruangan kantor, segera kutemui keduanya "A dan B kalau bicara gak boleh seperti itu, harus seperti laki - laki, tidak boleh kayak cewek" . Mereka serempak menjawab " iya us". Pola tingkah mereka hampir setiap jam istirahat dalam "pengawasanku" saat mereka kelas satu SD. mereka selalu bersahabat, setelah kelas mereka semakin tinggi, 'melambainya' mulai berkurang banyak sekali dan setelah kelas 6 mereka sudah tidak 'melambai' lagi alhamdulillah.

Menurut  psikolog Elly Risman, sekitar 20% anak laki-laki 'melambai' karena faktor genetika. Anak terlahir dengan sel kromosom Y (genetika laki-laki) yang membentuk kromosom X (genetika perempuan) sehingga cenderung tumbuh dengan sifat perempuan seperti; melambai, mnyukai mainan perempuan dll.
Elly Risman menambahkan, meski tumbuh dengan kecenderungan melambai, belum tentu anak tersebut memiliki orientasi seksual menyimpang. Perilaku menyimpang cenderung ada pada anak korban kekerasan seksual sejenis. Pengasuhan dan bimbingan yang tepat, insya Allah akan menghindarkan anak dari kelainan seksual dan mengembalikannya kepada fitrah.
Orangtua harus memperlakukan anaknya sesuai jenis kelaminnya dan memberi penguatan pada tingkah laku yang sesuai gendernya. Orangtua juga harus menjadi contoh yang baik untuk anak karena pada awal awal kehidupan, anak mengidentifikasikan dirinya dengan orangtua. Orangtua harus mengembangkan keperempuanan dan keibuan anak perempuan dan mengembangkan kelaki-lakian dan kebapakan anak laki-laki.

Orangtua, lanjut Elly, harus menunjukkan rasa syukur atas anugerah anak baik laki-laki atau perempuan. Terimalah semua kelebihan dan kekurangan anak dari sisi fisik maupun sifat sifat bawaannya agar jati diri anak berkembang apa adanya. Dia akan berkembang menjadi dirinya sendiri.

Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini menambahkan, pada hal-hal tertentu anak laki maupun perempuan dapat diperlakukan sama misalnya dalam mengajarkan ilmu dan pengetahuan. Orangtua tidak perlu membedakan kesempatan belajar seperti yang terjadi di waktu lalu di mana anak laki-laki selalu mendapat kesempatan belajar lebih baik dengan anggapan anak perempuan akan tinggal di rumah jadi tidak perlu pendidikan tinggi.

Anak perempuan dan anak laki-laki juga sama-sama diajarkan membantu pekerjaan rumah. Sebab, anak laki-laki maupun perempuan juga harus dapat memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kelak di suatu hari nanti mereka harus tinggal di asrama mereka dapat menata kamar dengan baik. Lebih jauh lagi jika mereka sudah berkeluarga mereka dapat saling membantu.

Pada kasus anak laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan, mungkin disebabkan beberapa faktor. Pertama, anak bergaul dengan kakak yang semuanya perempuan. Bisa jadi anak meniru cara berbicara atau bergaya kakak-kakaknya. Belum lagi respons orangtua atau orang dewasa lain yang tertawa atau tidak marah ketika dia bergaya seperti perempuan. Kalaupun ada kasus yang terjadi sejak kecil, kemungkinan terjadi kelainan kromosom. Namun, kasus ini sangat jarang.

Jika ada anak yang seperti ini, secara bertahap orangtua membicarakan pada anak tentang apa apa yang diharapkan dari seorang laki-laki (mengubah cara pandang anak itu agar ada perubahan persepsi tentang dirinya).

Ayah mulai dilibatkan dalam pengasuhan agar anak memiliki tokoh identifikasi atau model dari jenis kelamin yang sama. Hal ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati dan tidak secara terburu-buru karena anak membutuhkan waktu untuk menyadari adanya perbedaan pada dirinya. ''Sebenarnya penyadaran peran jenis kelamin harus terbentuk sebelum anak memasuki TK sehingga ketika sudah memasuki SD ia akan tahu bagaimana harus bertingkah laku,'' tutur Elly.

Tips Terapi Ketika Murid 'Melambai'


Menanamkan jiwa lelaki pada anak/murid laki-laki
peran keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh bagi pembentukan karakterny.
ilustrasi-boys

Selektif mencari teman, cari teman yang baik
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Pengawasan yang selektif dalam tontonan media
Marc Prensky menyebut anak-anak itu adalah digital native, yaitu anak-anak yang lahir di era digital dimana mereka sudah terpapar teknologi sejak lahir. Istilah “Digital Native” pertama kali Marc kenalkan pada tahun 2001 melalui jurnal “On The Horizon” yang diterbitkan oleh MCB University Press.

Gadget merupakan benda keseharian yang tidak asing lagi bagi para digital native. Mereka lebih pintar menggunakan gadget daripada orangtuanya yang disebut Digital Immigrant oleh Marc.

Kondisikan lingkungan sekitar agar tidak mengejek,tidak mencemooh, tidak menertawakannya dan selalu mendukungnya untuk menjadi lelaki sejati
Diawali dengan bermain dengan permainan yang maskulin  dan sebisa mungkin teman bermain di lingkungannya adalah anak laki-laki

Perhatikan perasaannya
Biasanya anak/murid 'melambai' lebih perasa, lebih halus perasaannya dan sensitif, jadi perhatikan perasaannya agar tidak minder, kecil hati, frustasi dan stress. Orangtua, guru, teman-temannya dan lingkungan sekitarnya harus menguatkannya terus-menerus agar selalu percaya diri. Dan memberi dorongan keyakinan tentang potensi dan bakat yang dimilikinya  yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan.

Dua muridku kini sudah menjadi lelaki sejati, lelaki sholeh, lelaki yang kuat, percaya diri dan penuh semangat, yang hafidz Qur'an, yang in sya Allah selalu membanggakan orang tuanya dan selalu mendoakan kedua orangtuanya...Alhamdulillah.

Semoga menjadi pembelajaran buat kita semua. Bapak Ibu dan Guru yuk mari kita bersama dampingi anak murid kita yang 'melambai' menjadi lelaki sejati, tangguh dan sholeh, insya Allah dimudahkanNya...aamiin


18 comments:

  1. Kecenderungan meniru pada anak ini, mungkin yang membuat stigma melambai itu "menular". Dari pengalaman, banyak dari anak laki2 melambai kemudian lebih merasa nyaman dengan teman perempuan
    Karena merasa di asingkan dari kelompok kawan laki2

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mak :(
      harusnya tidak measingkan mereka, harus didampingi

      Delete
    2. Aku setuju sama mbak sarah. Pernah ada muridku yg menurutku sebenarnya nggak melambai. Hanya dia pinter nari. Tapi sama teman2 cow nya di judge banci. Jadi akhirnya dia nyaman main ma cew. Di sini kan yg bahaya kalo keterusan. Pembentukan stigma ini yg kadang menggiring orang untuk berpikir ttg dirinya

      Delete
  2. Wah dulu jaman kuliah saya juga punya teman yang melambai kayak gini sih mbak... Kadang malah seru dan bikin suasana rame hehehe... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sudah dewasa mungkin lain lagi penanganannya ya om

      Delete
  3. Saat sekolah di SMK aku juga banyak teman yang melambai, untungnya sekarang ga lagi kok

    ReplyDelete
  4. Wah bunda terima kasih banyak ilmunya. Iya benar banyak penyebab mengapa si anak bisa melambai salah satunya kurang kuatnya peran ayah sebgai sosok laki2 dalam kehidupan anaknya. Semoga banyak ayah yg bukan hanya sibuk mencari nafkahbaja ya tapi juga ikut punya andil dalam mendidik dan kebersamaan yang berkualitas bersama anak2nya 😃

    ReplyDelete
  5. Waktu SMP dulu aku punya teman yang cenderung melambai. Lebih senang nimbrung bareng anak perempuan dan kasian juga jadi olok-olokan yang lain. Entahlah apa kabarnya sekarang. Mudah-mudahan dia normal seperti laki-laki dewasa lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia yang bikin sedih jika sebagai bahan olok2an. Semoga menjadi lelaki normal njeh mbk

      Delete
  6. termasuk pengaruh televisi juga bisa sih mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, tapi sepertinya orang-orang melambai di televisi sudah berkurang banyak..tpi krg thu juga. TV rmh jarang dnyalakan

      Delete
  7. Semoga anak laki2 kita mjd pribadi yg sholeh dan gentle ya mak. Boleh melambaikan tangan ketika mengikuti uji nyali saja. Alias nyerah. Hahaha

    ReplyDelete
  8. Surprise banget Mba, ini pengetahuan baru buat saya.
    Terima kasih sharing nya ya :)
    Saya juga punya keyakinan bahwa anak yg melambai belum tentu akan menyimpang orientasi seksualnya.
    Yang penting harus di "laki-laki"kan :D

    ReplyDelete
  9. Pernah punya teman mba,, SMA, eh terakhir sy dngr kerja d salon pdhl macho bngt,, tp memang rata mrk temenan sm perempuan noted bngt nuhun infny

    ReplyDelete
  10. Pernah punya teman mba,, SMA, eh terakhir sy dngr kerja d salon pdhl macho bngt,, tp memang rata mrk temenan sm perempuan noted bngt nuhun infny

    ReplyDelete
  11. knapa ya cowok bisa punya sikap yang melambai gitu. apa dia gak malu sm cow lain yang bersikap sperti layaknya cowok.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung di akarwangi.com .
Silahkan tinggalkan komentar yang baik, sopan dan bijak.
Komentar yang menyertakan link hidup dan spam saya hapus.
Semoga silaturahim terjaga dan membawa manfaat